November 05, 2004

you'll see...



Nangis lagi....

Habis gimana lagi? Dengan risiko puasa batal, aku diam-diam nangis lagi di wc. Yang namanya jealous nggak bisa ditahan. Jenis emosi yang satu ini paling sulit aku kendalikan. Langsung terungkap dalam bentuk air mata.

Aku kadang benci dengan sifatku ini, mudah jealous. Jadi benci sama diri sendiri. Bikin sengsara diri sendiri. Kayaknya nggak ada segi positifnya.

Padahal aku sangat yakin, bahwa "he is the one", "we are meant to be", "we are made for each other".... Tapi kadang harus memaksakan diri untuk meyakinkan diri sendiri mengenai hal itu semua: "aku tak perlu khawatir akan apa pun, karena itu adalah 'kenyataan' bahwa kami saling memiliki"....
('kenyataan': bahwa aku bukan sekadar 'percaya' tanpa landasan jelas secara sepihak, tetapi sebaliknya, yaitu sesuatu yang sudah jelas dan beralasan kuat)

Namun saat kami asyik mengobrol, ada telepon masuk. Segera dia tarik Erikssonnya dari pinggangnya, melihat monitor mungilnya, lalu langsung membuka flipnya dan berbicara tanpa permisi dahulu kepadaku. Kemudian berbalik menghadap komputernya, mulai mengutak-atik gambar. Wajahnya sumringah, suaranya lembut, kata-katanya halus; tidak seperti saat menerima telepon dariku.

Biasanya aku langsung buang muka dan melanjutkan pekerjaan. Lalu pembicaraan yang terputus tidak disambung lagi.
Namun kali ini aku bertahan. Aku ingin dia merasa bahwa pembicaraan kami berdua sangat penting artinya bagiku (bukan pada apa yang dibicarakan, namun lebih pada kenyataan bahwa timbulnya konversasi itu sendiri). Aku tetap duduk menghadapnya, memperhatikannya, bahkan mendengarkan pembicaraan mereka.

Aku langsung tahu kalau Si Yuni Kampungan yang menelepon. Aku mendapat gambaran pembicaraan mereka: Yuni menanyakan apakah Honey masih sakit. Yuni menanyakan apakah Sabtu ini Honey masuk kerja. Honey menanyakan Yuni sedang di mana. Honey menanyakan mengapa memakai nomor itu, padahal nomor itu akan dipakai untuk nanti setelah pulang kampung (pasti nomor yang baru dibeli karena bebas roaming). Honey pesan untuk telepon dirinya sebelum pulang kampung.

Segera setelah memutus pembicaraan, dia berbalik menghadapku dan melanjutkan kisahnya mengenai pesawat televisi di rumahnya.

Aku sudah tidak mendengarkan pembicaraannya. Telinga rasanya sudah tidak berfungsi. Aku hanya bisa menatapnya. Mataku terasa panas, mulutku terasa kering, nafasku terasa sesak. Ia pasti menangkap kilatan di mataku. Ia terus mengoceh dan menyelipkan lelucon di sana-sini. Aku hanya sanggup memaksakan diri menarik otot pipi untuk membentuk sebuah senyuman yang pasti kasat mata untuk dikatakan sebagai senyum yang kaku atau senyum palsu.

Setelah dia puas berbicara, aku beranjak dari tempat duduk dan pergi ke wc. Mengurung diri di dalam toilet booth. Menangis. Meratap. Sedih. Kesal. Benci.

Dia selalu begitu. Tidak mengerti perasaanku. Padahal ngakunya ngerti banget. Padahal katanya dia selalu menjaga perasaanku. Bilangnya di mulut, dia sama sekali tidak memberikan respons terhadap perasaanku. Namun dari tindakannya, aku tahu dia mencintaiku amat sangat, aku tahu dia sudah tidak dapat hidup lagi tanpa ada aku di sisinya. Katanya dia sayang padaku. Katanya aku sudah dia anggap seperti saudara kandungnya sendiri, bahkan lebih (Bi Hani bilang sih "pret, mana ada saudara kandung cipokan!?).

Tapi....

Dia pasti bohong berkata bahwa sudah lama tidak jumpa Yuni lagi. Pasti Yuni minta diantarkan ke stasiun kereta. Pasti mereka masih sering bermesraan. Honey selalu memilih hari Rabu kalau tidak masuk, dengan alasan tidak enak badan; itu pasti untuk berjumpa dengannya.

Aku benci dengan Yuni. Kami sama-sama berasi bintang leo. Kenyataan itu bikin aku makin benci. Aku benci Honey selalu membanding-bandingkan aku dengan Yuni. Aku benci Honey selalu mencari persamaan atau perbedaan di antara kami. Aku benci setiap menjumpai bahwa aries dengan leo sangat serasi dalam ramalan bintang hari tersebut, karena mengingatkan aku pada Yuni; sehingga aku tidak pernah melaporkan berita gembira ramalan itu kepada Honey.

Yuniarti.... Nama macam apa itu? Lahir Agustus tapi dinamai Yuni. Waktu Honey memutuskan untuk menjauhinya, dia bolos kerja sehingga pekerjaan di kantor mengalami hambatan besar. Di rumahnya dia tidak makan, tidak mandi, menangis melulu, bahkan mengancam bunuh diri. Akhirnya hamil, mengandung anak Honey. Minta Honey cerai dari Wulan, dan setelah ternyata Wulan menolak, dia gugurkan anaknya. Belagak menyesali semua itu, dan ingin berteman dengan Wulan, padahal di belakang, selingkuh berjalan terus. Munafik. Pembohong. Cengeng. Kampungan. Norak. Goblok.

Makanya aku sangat benci diperbandingkan dengan perempuan murahan seperti itu. Aku jujur. Aku terus terang. Aku tegar. Aku berkelas. Aku pandai.

Dia nggak level diperbandingkan dengan aku.

Aku yakin Honey untukku dan aku untuk Honey.

Lihat saja nanti.... Posted by Hello

0 Comments:

Post a Comment

<< Home