November 06, 2004

bingkisan lebaran untuk Honey Bunny



Bingung....

Pingin kasih sesuatu untuk Honey.

Memang maksud sebetulnya kan untuk Honey pribadi.
Tapi ya susah kayak gitu, masalahnya kan dia itu udah berkeluarga? Kasih sesuatu yang bagus dan mahal buat dia pribadi sih nggak masalah buatku, cuma pasti dianya nggak enak hati. Nggak enak hati sama anak-bininya juga....

Sebetulnya masih bingung nih, mo kasih apa ke Honey sekeluarga sebagai parcel lebaran. Kayaknya sih, yang paling pas sama kebutuhan mereka itu kan sembako, soalnya tanggungan Honey nambah (gila ini anak emang, penuh rasa tanggung jawab tapi nyekik leher sendiri...). Tapi kayaknya kurang etis, seakan mereka keluarga nggak mampu aja!

Trus sempet ide beralih ke ordinary parcel, model kue, sirup, teh, kopi, dan sejenisnya. Makanya udah beli kue lebaran yang enak-enak dari Astri, mahal lho!

Eh tapi waktu dia cerita agak susah cari baju untuk anak-anaknya, terinspirasi lagi untuk kasih baju.... Tapi jatuhnya pasti mahal banget.

Bi Hani usul pecah-belah supaya bisa dikenang. Pas tanya Bokap, Pah paling senang terima apa sebagai parcel lebaran, dia jawab pecah-belah. Ya udah kayaknya ambil pecah-belah Values aja yang kira-kira bagus. Ditambah kue lebaran yang kadung dibeli dari Astri....

Ngomong-ngomong, tadi di kantor usrek-usrekan kaki n tangan sama Honey.... Aku kangen banget sama dia.... Mana tadi wangi banget, lagi (biasanya juga wangi, sih).... Aku selalu khawatir kalo Honey nggak mau diusrekin, tapi tadi dia tuh yang mulai duluan.... Eh tapi yang mancing aku kali, tadi pagi aku elus-elus sikunya sebentar....

Hush, bulan puasa, euy!!

Yang kaget, tadi aku liat dia nggak pake cincinnya!!

Nggak tau, apa dari rumah emang udah nggak dipake, atau dia copot waktu mo pake body lotion karena jari-jari tangannya kering.

Beberapa hari yang lalu, seperti biasa, di sela-sela tidur dan sadar, aku berkhayal.... Khayalan aneh: tiba-tiba Honey copot cincin kawinnya yang biasa dia pakai, lalu dia selipkan itu ke jari manis kiriku, trus dia bilang,
"simpan dulu ini, nanti aku kasih yang benerannya dalam waktu dekat, ya!"

Alias nglamar kawin!

Duh, beneran kek!!
 Posted by Hello

date sama Sammy!



Hari ini janjian ketemu sama Sammy.

Tadinya janjian besok, soalnya sore ini dia musti antar temannya belanja. Tapi katanya temannya batalin, jadinya hari ini deh ketemuan!!

Waaahhh, senangnya!!

Tapi mo ngapain, hayo!? Bulan puasa, lho! Nggak mungkin kan mesra-mesraan.... Ugh, padahal kan justru pinginnya itu!! Udah mulai pusing nih libido nggak tersalurkan.... Kacau....
Apalagi barusan di kantor usrek-usrekan kaki n tangan sama Honey.... Duh kalo bukan bulan puasa sih beneran deh, udah aku sosor itu co manis!!

Ya aku sih usul Sammy temani aku belanja aja.... Mo beli pecah-belah di Values Thamrin buat parcel lebaran. Parcel buat Honey.

Gila kali ya, minta hts temani belanja buat selingkuhan...?

Sebodo, ah!!

Aku udah cuwekin dia hampir selama seminggu, waktu Astri kasih aku voucher Rp 250ribu makan di TC Square Kemang. Astri nggak bisa, Bi Hani nggak bisa. Jelas aku paling pingin ajak Honey, tapi pasti nggak mungkin. Akhirnya telepon Sammy deh....

Eh, dia bilang kebetulan banget dia udah niat mo miskol aku (miskol gitu lho, bukan telepon...), keburu keduluan teleponku. Katanya, bagus juga ya tekanan batin kita.... Ngaco deh, maxudnya kan hubungan batin?? Duh gemes banget deh aku sama Sammy!

Trus aku tanya, kamu kangen nggak sih sama aku...? Dia bilang, kalo nggak kangen ya nggak ada tuh niat miskol....

Tapi ya yang ke TC Square nggak jadi juga sih....

Eh tadi pagi dia miskol aku lagi kerja di kantor. Dia pernah bilang, dia miskol tandanya dia lagi kangen. Taelaaaaaaaaaa dia kangen sama aku lho, padahal baru aku telepon 2 hari yang lalu!

Yah intinya aku lagi flattering n happy karena mo ketemu Sammy!!
Posted by Hello

November 05, 2004

you'll see...



Nangis lagi....

Habis gimana lagi? Dengan risiko puasa batal, aku diam-diam nangis lagi di wc. Yang namanya jealous nggak bisa ditahan. Jenis emosi yang satu ini paling sulit aku kendalikan. Langsung terungkap dalam bentuk air mata.

Aku kadang benci dengan sifatku ini, mudah jealous. Jadi benci sama diri sendiri. Bikin sengsara diri sendiri. Kayaknya nggak ada segi positifnya.

Padahal aku sangat yakin, bahwa "he is the one", "we are meant to be", "we are made for each other".... Tapi kadang harus memaksakan diri untuk meyakinkan diri sendiri mengenai hal itu semua: "aku tak perlu khawatir akan apa pun, karena itu adalah 'kenyataan' bahwa kami saling memiliki"....
('kenyataan': bahwa aku bukan sekadar 'percaya' tanpa landasan jelas secara sepihak, tetapi sebaliknya, yaitu sesuatu yang sudah jelas dan beralasan kuat)

Namun saat kami asyik mengobrol, ada telepon masuk. Segera dia tarik Erikssonnya dari pinggangnya, melihat monitor mungilnya, lalu langsung membuka flipnya dan berbicara tanpa permisi dahulu kepadaku. Kemudian berbalik menghadap komputernya, mulai mengutak-atik gambar. Wajahnya sumringah, suaranya lembut, kata-katanya halus; tidak seperti saat menerima telepon dariku.

Biasanya aku langsung buang muka dan melanjutkan pekerjaan. Lalu pembicaraan yang terputus tidak disambung lagi.
Namun kali ini aku bertahan. Aku ingin dia merasa bahwa pembicaraan kami berdua sangat penting artinya bagiku (bukan pada apa yang dibicarakan, namun lebih pada kenyataan bahwa timbulnya konversasi itu sendiri). Aku tetap duduk menghadapnya, memperhatikannya, bahkan mendengarkan pembicaraan mereka.

Aku langsung tahu kalau Si Yuni Kampungan yang menelepon. Aku mendapat gambaran pembicaraan mereka: Yuni menanyakan apakah Honey masih sakit. Yuni menanyakan apakah Sabtu ini Honey masuk kerja. Honey menanyakan Yuni sedang di mana. Honey menanyakan mengapa memakai nomor itu, padahal nomor itu akan dipakai untuk nanti setelah pulang kampung (pasti nomor yang baru dibeli karena bebas roaming). Honey pesan untuk telepon dirinya sebelum pulang kampung.

Segera setelah memutus pembicaraan, dia berbalik menghadapku dan melanjutkan kisahnya mengenai pesawat televisi di rumahnya.

Aku sudah tidak mendengarkan pembicaraannya. Telinga rasanya sudah tidak berfungsi. Aku hanya bisa menatapnya. Mataku terasa panas, mulutku terasa kering, nafasku terasa sesak. Ia pasti menangkap kilatan di mataku. Ia terus mengoceh dan menyelipkan lelucon di sana-sini. Aku hanya sanggup memaksakan diri menarik otot pipi untuk membentuk sebuah senyuman yang pasti kasat mata untuk dikatakan sebagai senyum yang kaku atau senyum palsu.

Setelah dia puas berbicara, aku beranjak dari tempat duduk dan pergi ke wc. Mengurung diri di dalam toilet booth. Menangis. Meratap. Sedih. Kesal. Benci.

Dia selalu begitu. Tidak mengerti perasaanku. Padahal ngakunya ngerti banget. Padahal katanya dia selalu menjaga perasaanku. Bilangnya di mulut, dia sama sekali tidak memberikan respons terhadap perasaanku. Namun dari tindakannya, aku tahu dia mencintaiku amat sangat, aku tahu dia sudah tidak dapat hidup lagi tanpa ada aku di sisinya. Katanya dia sayang padaku. Katanya aku sudah dia anggap seperti saudara kandungnya sendiri, bahkan lebih (Bi Hani bilang sih "pret, mana ada saudara kandung cipokan!?).

Tapi....

Dia pasti bohong berkata bahwa sudah lama tidak jumpa Yuni lagi. Pasti Yuni minta diantarkan ke stasiun kereta. Pasti mereka masih sering bermesraan. Honey selalu memilih hari Rabu kalau tidak masuk, dengan alasan tidak enak badan; itu pasti untuk berjumpa dengannya.

Aku benci dengan Yuni. Kami sama-sama berasi bintang leo. Kenyataan itu bikin aku makin benci. Aku benci Honey selalu membanding-bandingkan aku dengan Yuni. Aku benci Honey selalu mencari persamaan atau perbedaan di antara kami. Aku benci setiap menjumpai bahwa aries dengan leo sangat serasi dalam ramalan bintang hari tersebut, karena mengingatkan aku pada Yuni; sehingga aku tidak pernah melaporkan berita gembira ramalan itu kepada Honey.

Yuniarti.... Nama macam apa itu? Lahir Agustus tapi dinamai Yuni. Waktu Honey memutuskan untuk menjauhinya, dia bolos kerja sehingga pekerjaan di kantor mengalami hambatan besar. Di rumahnya dia tidak makan, tidak mandi, menangis melulu, bahkan mengancam bunuh diri. Akhirnya hamil, mengandung anak Honey. Minta Honey cerai dari Wulan, dan setelah ternyata Wulan menolak, dia gugurkan anaknya. Belagak menyesali semua itu, dan ingin berteman dengan Wulan, padahal di belakang, selingkuh berjalan terus. Munafik. Pembohong. Cengeng. Kampungan. Norak. Goblok.

Makanya aku sangat benci diperbandingkan dengan perempuan murahan seperti itu. Aku jujur. Aku terus terang. Aku tegar. Aku berkelas. Aku pandai.

Dia nggak level diperbandingkan dengan aku.

Aku yakin Honey untukku dan aku untuk Honey.

Lihat saja nanti.... Posted by Hello